Saat ini program membaca Syifa Saya tingkatkan. Saya mewajibkan Syifa untuk membaca buku setiap hari. Waktu membacanya pun terserah Syifa, asalkan Saya ada disampingnya untuk mengetahui sejauh mana kemampuannya dan mengoreksi ejaan Syifa jika ada yang masih salah atau hanya sebagai tempat bertanya Syifa jika Ia merasa ada kata yang sulit buatnya.
Alhamdulillah, saat ini Syifa sudah mau membaca buku. Meskipun buku yang masih sederhana. Terserah dia mau membaca buku apa saja. Ini salah satu cara Saya untuk melancarkan kemampuan membaca Syifa. Mendengar dia membaca dengan terbata-bata ternyata membuat perasan tersendiri buat Saya. Ada rasa bangga karena Saya turut andil dalam perjalanan membacanya, ada rasa haru karena tekad Syifa untuk bisa baca semakin kuat.
Ayooo...Semangaaaaat....
sharing kegiatan bermain dan belajar anak dari lingkungan sekitar dengan gembira dan menyenangkan
13 Mei 2010
03 April 2010
Milyarder...ala Syifa
Sebenarnya sudah dari kemarin ingin posting, tapi baru terlaksana sekarang.
Ketika Kami sedang kumpul melihat berita tentang kasus pajak di televisi, tiba-tiba Syifa bertanya kepadaku, "Ibu, kenapa sih orang-orang selalu ribut-ribut cari duit? Padahalkan kita bisa bikin duit itu (sendiri)." "Lihat nih, uang kertas apalagi, gampang banget, tinggal dibikin trus di print kan gampang banget, kalo duit receh tu, agak susah...tapi yang orang-orang carikan duit kertasan.... Syifa bisa kok bikinnya, gampaaaang banget...."
Aku tersenyum geli campur bingung ngejawabnya, ya emang sih kalau dipikir-pikir benar juga, untuk anak seukuran Syifa dia pasti bingung, lha wong duit cuma dari kertas...
Tinggal Aku yang tergagap untuk menjawabnya...Gimana biar penjelasanku masuk ke pola pikir Syifa. Akhirnya Aku bilang saja, "menerbitkan dan mencetak uang ngga boleh sembarangan. Kalau disini hanya Bank Indonesia yang bisa mencetak dan menerbitkan uang, Nak."
"lho kok bisa begitu? ah, padahal kan gampang banget bikinnya...coba kalau kita bikin sendiri, Ayah ngga usah cape-cape kerja. Mau beli, tinggal cetak trus kita kasih ke penjualnya. Gampangkan, Bu..." Cerocos Syifa..
"Hehehehe...ngga segampang itu, Nak, bisa-bisa kita di penjara karena sudah mencetak uang palsu...karena pemerintah sudah menetapkan yang bisa mencetak uang hanya Bank Indonesia...Syifa mau dipenjara?" Jawabku kehabisan kata-kata..
Syifa cuma melongo...
Saat ini Aku meyesal tidak menjelaskan lebih detail, kok pada saat itu ngga kepikiran sekalian menjelaskan tentang mata uang jaman dahulu yang masih menggunakan emas dan perak...Eh, malah Aku menskakmat syifa dengan dipenjara...waduuuh...sangat tidak mendidik banget!!
Padahal menurutku Syifa sudah kritis, eh..malah Ibunya yang rada telmi...huhuhuhu...
Ketika Kami sedang kumpul melihat berita tentang kasus pajak di televisi, tiba-tiba Syifa bertanya kepadaku, "Ibu, kenapa sih orang-orang selalu ribut-ribut cari duit? Padahalkan kita bisa bikin duit itu (sendiri)." "Lihat nih, uang kertas apalagi, gampang banget, tinggal dibikin trus di print kan gampang banget, kalo duit receh tu, agak susah...tapi yang orang-orang carikan duit kertasan.... Syifa bisa kok bikinnya, gampaaaang banget...."
Aku tersenyum geli campur bingung ngejawabnya, ya emang sih kalau dipikir-pikir benar juga, untuk anak seukuran Syifa dia pasti bingung, lha wong duit cuma dari kertas...
Tinggal Aku yang tergagap untuk menjawabnya...Gimana biar penjelasanku masuk ke pola pikir Syifa. Akhirnya Aku bilang saja, "menerbitkan dan mencetak uang ngga boleh sembarangan. Kalau disini hanya Bank Indonesia yang bisa mencetak dan menerbitkan uang, Nak."
"lho kok bisa begitu? ah, padahal kan gampang banget bikinnya...coba kalau kita bikin sendiri, Ayah ngga usah cape-cape kerja. Mau beli, tinggal cetak trus kita kasih ke penjualnya. Gampangkan, Bu..." Cerocos Syifa..
"Hehehehe...ngga segampang itu, Nak, bisa-bisa kita di penjara karena sudah mencetak uang palsu...karena pemerintah sudah menetapkan yang bisa mencetak uang hanya Bank Indonesia...Syifa mau dipenjara?" Jawabku kehabisan kata-kata..
Syifa cuma melongo...
Saat ini Aku meyesal tidak menjelaskan lebih detail, kok pada saat itu ngga kepikiran sekalian menjelaskan tentang mata uang jaman dahulu yang masih menggunakan emas dan perak...Eh, malah Aku menskakmat syifa dengan dipenjara...waduuuh...sangat tidak mendidik banget!!
Padahal menurutku Syifa sudah kritis, eh..malah Ibunya yang rada telmi...huhuhuhu...
08 Maret 2010
Kalah Lomba
Tanggal 7 Maret lalu, Syifa mengikuti lomba mewarnai dan menghafal surat pendek yang diadakan oleh TPA di Mushola dekat rumah. Hasilnya? Dia tidak medapatkan juara. Bukan karena Syifa tidak bisa mewarnai atau bukan karena dia tidak hafal. Syifa belum mengerti kompetisi, yang dia tahu, setiap kemajuan yang dia buat adalah kemenangan. Syifapun tidak menganggap wajib untuk menjadi juara. Namun setelah acara selesai, ketika ada beberapa teman mendapatkan hadiah, Syifa tidak terima, karena diapun ingin mendapatkan hadiah pula meskipun sudah aku beritahu, kalau mau dapat hadiah ya harus jadi juara dulu. Akhirnya Ayahlah yang menghadapi kekekeuhan Syifa untuk mendapatkan hadiah. Alhamdulillah, ketua panitia masih memiliki bingkisan dari sponsor, jadi Syifa mendapatkan bingkisan sebagai hadiah...
Ternyata, kedewasaan Syifa untuk menghadapi beda dari teman-temannya, belum terpupuk. Waduuuh....malu juga, tapi mau bagaimana lagi :)
Ternyata, kedewasaan Syifa untuk menghadapi beda dari teman-temannya, belum terpupuk. Waduuuh....malu juga, tapi mau bagaimana lagi :)
Langganan:
Postingan (Atom)