tadi kita bermain marketplace. Syifa seperti biasa memposisikan diri sebagai penjual dan Saya harus menjadi pembelinya. Singkat cerita dia berjualan di mall dengan menjual pernak pernik anak kecil. tapi barang dagangan berupa kartu yang bergambar tas, boneka, tenda, burung dsb. dan kartu tsb seakan-akan mengkiaskan barang sesungguhnya. misal saya ingin beli burung maka Syifa akan memberikan kartu bergambar burungnya. begitu deh...
yang membuat Saya agak terkejut, Syifa bilang "belanjanya ga pake uang ya Bu, Ibu tinggal kasih kartu kredit ibu saja, nanti tinggal gesek di mesin ini" sambil menunjukkan jam yang memang seperti alat hitung (kalkulator) yang ada selipan kartunya.
mirip yang ada di kasir.
ketika aku bilang aku tidak punya kartu kredit. Dia langsung berucap "tidak apa-apa, ini Saya bikinkan kartunya, langsung bisa dipakai, dapat hadiah boneka, tapi Ibu harus belanja dulu di toko Syifa"
Nah lho...
akhirnya kami bermain jual beli dengan pembayaran nontunai...
Dan ternyata di arena berjualan itu Saya mampu mangajari Syifa membaca, karena dia berjualan kartu belajar membaca, ada empat kartu: sa, la, wa dan ya. lumayan dia mengenal suku kata baru wa dan ya...sekalian aja saya gabung-gabungin kartunya jadilah dia belajar 2 sukukata...
sharing kegiatan bermain dan belajar anak dari lingkungan sekitar dengan gembira dan menyenangkan
05 Januari 2009
homeschooling,unschooling,schooling
Sebenarnya Saya masing ingin Syifa homescooling. Tapi ternyata dia memilih lain, dia ingin sekolah seperti layaknya anak yang lain. Tapi yang terpenting Saya selalu memonitoring sejauh apa transfer ilmu yang diberikan oleh sekolah dan lingkungannya. Baik itu transfer ilmu gurunya didalam kelas, maupun lingkungan-dalam hal ini teman2nya sebagai sarana sosialisasi untuk Syifa.
Saat ini Syifa sudah memasuki dunia TK B selama 1 semester. Mungkin kalau menurut orangtua yang lain,perkembangan SYifa tidak bagus. Why? karena dia belum mahir membaca, berhitung. Namun bagi Saya kemampuan Syifa sudah bagus, Desember 2008 kemaren dia genap berusia 5 tahun,tergolong muda kan untuk ukuran TK B. Lagi pula Saya belum mentargetkan Syifa untuk mahir membaca&berhitung. kemampuan membaca Iqronyapun belum sehebat anak-anak diusianya. baru sampai huruf ja (jim). Sayapun belum begitu tertarik untuk mencari bentuk belajar membaca yang handal. Karena Syifapun sudah mulai mengenal huruf dari umur 3 tahun, melalui bentuk permainan. So...Saya sedang mencari bagaimana menumbuhkan minat baca dia. Dan itu yang belum bisa Saya gali...saat ini Saya hanya watch and see..
Tapi ketika Saya perhatikan, kemampuan hafalannya sedang berkembang. Dan inilah target kami, sebagai orangtuanya. Setiap malam kita berusaha mereview hapalan surat pendek, doa dan haditsnya.
Pendek kata Saya tidak menekan sekolahnya untuk dapat mengajari Syifa mahir membaca. Karena sekolah menurut Saya hanya sebagai sebuah lembaga yang dikunjungi sang anak tak lebih dari 3-4 jam saja. Selebihnya adalah tanggungjawab ortu sebagai pengemban amanah yang diberikan oleh Alloh SWT dalam mendidik anak2.
Mau unschooling,schooling, homeschooling...bukan pembatas anak untuk terus berkreatifitas meningkatkan kemampuan diri untuk berkembang. Yang terpenting sebagi orangtua kita harus bisa melihat dan menggali potensi anaknya. Jangan ada paksaan, buat stimulus-stimulusnya saja....
Saat ini Syifa sudah memasuki dunia TK B selama 1 semester. Mungkin kalau menurut orangtua yang lain,perkembangan SYifa tidak bagus. Why? karena dia belum mahir membaca, berhitung. Namun bagi Saya kemampuan Syifa sudah bagus, Desember 2008 kemaren dia genap berusia 5 tahun,tergolong muda kan untuk ukuran TK B. Lagi pula Saya belum mentargetkan Syifa untuk mahir membaca&berhitung. kemampuan membaca Iqronyapun belum sehebat anak-anak diusianya. baru sampai huruf ja (jim). Sayapun belum begitu tertarik untuk mencari bentuk belajar membaca yang handal. Karena Syifapun sudah mulai mengenal huruf dari umur 3 tahun, melalui bentuk permainan. So...Saya sedang mencari bagaimana menumbuhkan minat baca dia. Dan itu yang belum bisa Saya gali...saat ini Saya hanya watch and see..
Tapi ketika Saya perhatikan, kemampuan hafalannya sedang berkembang. Dan inilah target kami, sebagai orangtuanya. Setiap malam kita berusaha mereview hapalan surat pendek, doa dan haditsnya.
Pendek kata Saya tidak menekan sekolahnya untuk dapat mengajari Syifa mahir membaca. Karena sekolah menurut Saya hanya sebagai sebuah lembaga yang dikunjungi sang anak tak lebih dari 3-4 jam saja. Selebihnya adalah tanggungjawab ortu sebagai pengemban amanah yang diberikan oleh Alloh SWT dalam mendidik anak2.
Mau unschooling,schooling, homeschooling...bukan pembatas anak untuk terus berkreatifitas meningkatkan kemampuan diri untuk berkembang. Yang terpenting sebagi orangtua kita harus bisa melihat dan menggali potensi anaknya. Jangan ada paksaan, buat stimulus-stimulusnya saja....
29 Desember 2008
segelas air aqua=limaribu
selepas isya,
syifa dan ayahnya baru saja pulang dari mushola dekat rumah, habis sholat isya berjamaah. Tidak seperti biasanya, mereka pulang sudah larut malam. Lamat-lamat terdengar mereka seperti bertengkar, aku hanya mendengarkan dari dalam rumah. Sesampainya di depan pintu mereka langsung menjudge diri mereka masing-masinglah yang paling benar. Begini kurang lebih percakapannya.....
"syifa mah begitu, ayah gak suka..." seru Ayah.
"Ayah, nakal, ayah nakal..." tak kalah Syifa juga berseru...
Aku yang lagi puyeng di depan laptop karena ngirim e-mail ga bisa-bisa terpaksa menghentikan aktivitas, dan langsung bertanya kepada mereka, "Ada apa, kenapa?"
"tanya tuh sama anaknya!" kata ayah bersungut-sungut.
"ih...ayah, Raja yang minta makanya syifa kasih".
Waduh...jangan-jangan Syifa terlibat perang ma temen-temennya di mushola.
Aku langsung bertanya sama Syifa, 'Emangnya ada apa sama Raja?' "Rajanya yang minta permenkaret, makanya Syifa kasih. Terus yang lainnya juga mau, ya udah Syifa kasih juga."
"Tuh, anaknya tadi jadi Boss..."kata Ayah kesel. "kamu janji sama Ayah cuma seribu, tapi kok kembaliannya limaribu?Tadikan Ayah ngasihnya sepuluhribu!"
"Iiiih, Ayah. Temen-temennya yang minta dibeliin permen karet, tapi Syifa ga makan permen karetnya kok bu, Syifa cuma beli air aqua." Ujar Syifa membela diri.
"Emang ada apa sih?" aku akhirnya meminta penjelasan dari Ayah, yang lebih lancar untuk bercerita.
"Tadi selepas sholat Isya Aku bersama dengan bapak2nya lagi ngebahas masalah pelatihan tadi siang. tiba2 Syifa minta dibelikan air aqua, haus katanya. karena ga ada recehan aku kasih dia sepuluhribu, dan aku bilang, dek itu kembali.Aku dah curiga jangan-jangan Syifa nraktir temen2nya karena banyak anak2 kecil ngumpul di warung..... Bener aja, uangnya tinggal limaribu. Pas aku tanya mana kembalian yang lainnya? Udah untuk beliin permen karet temen-temennya..."
Oooooooooohhh begitu ceritanya.
"emang kenapa nak, kok kamu beliin permen karet temen2?
"abis mereka minta dibeliin. ya udah Syifa beliin."
"trus kamu juga makan permen karetnya?" tanyaku.
"ngga syifa cuma beli air aqua. tapi syifa makan sedikit permen karetnya trus Syifa buang lagi."
"Tapi kamukan bilang sama Ayah cuma minta seribu, kenapa jadi limaribu?"
Syifa gak mau kalah "Ayah, temen2nya yang minta duluan..."
he...he...he...dalam hatiku, nih ayah medit banget yak. tapi Syifa juga dah gak nepati janji.lagipula yang Syifa tau uang 10ribu itu uang yang banyak dan bisa beli apa aja. mungkin pikir dia masih ada kembaliannya berarti masih banyak uangnya. Dia memang belum tau konsep uang seutuhnya..
akhirnya...
"Nak, kamukan bilang sama Ayah cuma minta seribu, ya berarti kemaliannya sembilan ribu. Nah ini cuma lima ribu doang. Harusnya Syifa ijin dulu sama Ayah mau beliin temen-temen Syifa."
"dan Ayah, udah tau anaknya belum ngerti duit, eh dikasih yang segituan. kan bisa bilang kalo ga punya recehan ke anaknya.Kebobolan kan jadinya."
Syifa cuma diem. Tandanya dia lagi mencerna omonganku. Dia tau kesalahn dia cuma ga ijin sama Ayahnya untuk nraktirin permen ke temen2nya...
syifa dan ayahnya baru saja pulang dari mushola dekat rumah, habis sholat isya berjamaah. Tidak seperti biasanya, mereka pulang sudah larut malam. Lamat-lamat terdengar mereka seperti bertengkar, aku hanya mendengarkan dari dalam rumah. Sesampainya di depan pintu mereka langsung menjudge diri mereka masing-masinglah yang paling benar. Begini kurang lebih percakapannya.....
"syifa mah begitu, ayah gak suka..." seru Ayah.
"Ayah, nakal, ayah nakal..." tak kalah Syifa juga berseru...
Aku yang lagi puyeng di depan laptop karena ngirim e-mail ga bisa-bisa terpaksa menghentikan aktivitas, dan langsung bertanya kepada mereka, "Ada apa, kenapa?"
"tanya tuh sama anaknya!" kata ayah bersungut-sungut.
"ih...ayah, Raja yang minta makanya syifa kasih".
Waduh...jangan-jangan Syifa terlibat perang ma temen-temennya di mushola.
Aku langsung bertanya sama Syifa, 'Emangnya ada apa sama Raja?' "Rajanya yang minta permenkaret, makanya Syifa kasih. Terus yang lainnya juga mau, ya udah Syifa kasih juga."
"Tuh, anaknya tadi jadi Boss..."kata Ayah kesel. "kamu janji sama Ayah cuma seribu, tapi kok kembaliannya limaribu?Tadikan Ayah ngasihnya sepuluhribu!"
"Iiiih, Ayah. Temen-temennya yang minta dibeliin permen karet, tapi Syifa ga makan permen karetnya kok bu, Syifa cuma beli air aqua." Ujar Syifa membela diri.
"Emang ada apa sih?" aku akhirnya meminta penjelasan dari Ayah, yang lebih lancar untuk bercerita.
"Tadi selepas sholat Isya Aku bersama dengan bapak2nya lagi ngebahas masalah pelatihan tadi siang. tiba2 Syifa minta dibelikan air aqua, haus katanya. karena ga ada recehan aku kasih dia sepuluhribu, dan aku bilang, dek itu kembali.Aku dah curiga jangan-jangan Syifa nraktir temen2nya karena banyak anak2 kecil ngumpul di warung..... Bener aja, uangnya tinggal limaribu. Pas aku tanya mana kembalian yang lainnya? Udah untuk beliin permen karet temen-temennya..."
Oooooooooohhh begitu ceritanya.
"emang kenapa nak, kok kamu beliin permen karet temen2?
"abis mereka minta dibeliin. ya udah Syifa beliin."
"trus kamu juga makan permen karetnya?" tanyaku.
"ngga syifa cuma beli air aqua. tapi syifa makan sedikit permen karetnya trus Syifa buang lagi."
"Tapi kamukan bilang sama Ayah cuma minta seribu, kenapa jadi limaribu?"
Syifa gak mau kalah "Ayah, temen2nya yang minta duluan..."
he...he...he...dalam hatiku, nih ayah medit banget yak. tapi Syifa juga dah gak nepati janji.lagipula yang Syifa tau uang 10ribu itu uang yang banyak dan bisa beli apa aja. mungkin pikir dia masih ada kembaliannya berarti masih banyak uangnya. Dia memang belum tau konsep uang seutuhnya..
akhirnya...
"Nak, kamukan bilang sama Ayah cuma minta seribu, ya berarti kemaliannya sembilan ribu. Nah ini cuma lima ribu doang. Harusnya Syifa ijin dulu sama Ayah mau beliin temen-temen Syifa."
"dan Ayah, udah tau anaknya belum ngerti duit, eh dikasih yang segituan. kan bisa bilang kalo ga punya recehan ke anaknya.Kebobolan kan jadinya."
Syifa cuma diem. Tandanya dia lagi mencerna omonganku. Dia tau kesalahn dia cuma ga ijin sama Ayahnya untuk nraktirin permen ke temen2nya...
Langganan:
Postingan (Atom)